Minggu, 03 Juni 2018

5 Cara Untuk Sukses di Usia 20tahun

5 Cara Sukses di Usia 20Tahun















Sukses di usia muda merupakan impian semua anak muda, namun untuk meraihnya itu membutuhkan perjuangan yang sangat keras dan serius untuk menjalani. Merasakan sukses di usia muda rasanya berbeda dengan sukse yang di dapat pada saat usia memasuki 40 tahun ke atas. Karena sukses di usia muda kita bisa merasakan banyak hal yang tentunya bisa tidak dapat pada anak-anak muda lainnya.
Tapi untuk mencapai semua kesuksesan tersebut bukanlah dengan cara yang cepat/instan seperti yang diinginkan oleh anak muda jaman sekarang ini. Kesuksesan haru dilalui dengan kerja keras, ketekunan diri sendiri, dan disertai doa dan kesungguhan hati. Beberapa orang harus jatuh bangun dahulu agar bisa benar-benar berada pada titik kesuksesannya. Berikut ini 5 CARA SUKSES di USIA 20 TAHUNAN....


Baca juga lukcyirianto.blogspot.com (guna membantu untuk menyuport saya :)

Menciptakan Kesuksesan Dengan 5 Cara

  1. Jangan Takut Untuk Merasakan Hidup Susah

Kegagalan adalah satu dari berjuta-juta kata yang menghantui para usaha-usaha muda di Indonesia, banyak dari merekan yang berpikiran seandainya mereka gagal dalam berusaha bahkan mereka telah mengambil modal dengan berhutang kepada Bank. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari pengusaha muda, karena seandainya mereka belum pernah mencoba apa mereka tahu seperti apa usaha yang telah kita lakukan. Mereka yang berhasil merasakan manisnya sukses di usia muda paham akan hal ini. Bukan berarti bahwa tak pernah gagal, malahan berkali-kali bangkit dari kegagalan membuat mental kita makin teruji. Alhasil, kesusahan dalam hidup bukan jadi halangan malahan hal itu MEMACU semangat untuk terus mencoba.

2. Kerja Keras yang Cerdas

Kerja keras itu wajib, sementara kerja cerdas juga harus agar usaha keras yang kita lakukan bisa efektif dalam meraih target yang kita inginkan. Mereka yang sukses di usia muda bisa menggabungkan kerja keras dan kerja cerdas untuk menjadikan dirinya mampu menaklukan hambatan guna meraih impian.

3. Bersahabat dengan Risiko

Semua orang paham bahwa dengan menjadi pengusaha ada kemungkinan untuk mendapat penghasilan lebih banyak. Tapi, untuk jadi pengusaha yang mapan bukan berarti tidak ada risikonya, malahan menurut beberapa survei,  untuk menjadi pengusaha Anda harus siap melakoni pekerjaan yang penuh dengan risiko. Untuk mereka yang kini sudah sukses di usia muda, manajemen risiko jadi menu pembelajaran sehari-hari yang tak pernah lelah untuk terus dikuasai.

4. Memilih Pendidikan Sesuai Minat dan Bakat

Pendidikan yang berkualitas adalah modal yang baik bagi seseorang untuk meraih impian. Anak muda yang punya visi kedepan yang jelas akan memilih pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan cara ini, harapannya tentu saja, pendidikannya akan bisa mendukung perkembangan usaha atau apa saja yang dilakoni agar berkembang maksimal dari masa ke masa.

5. Berusaha Menyisihkan 25% dari Pendapatan Pertahun

Mereka yang sukses sejak usia muda sangat terbiasa mencanangkan diri untuk menabung. Tidak main-main karena dengan disiplin menyisihkan 25% dari pendapatannya pertahun maka akan ada simpanan untuk menghadapi kebutuhan di masa-masa sulit. Ataupun juga untuk hal yang lebih besar seperti investasi pada properti atau pengembangan usaha.







Senin, 14 Desember 2015

UJIAN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER (UNBK)

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atauPaper Based Test(PBT) yang selama ini sudah berjalan.
Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari serverpusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload).
PERSYARATAN SEKOLAH PESERTA UNBK

(UJIAN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER)
TAHUN PELAJARAN 2015/2016 :

1. Tersedia petugas laboratorium komputer (minimal 1 proktor dan 1 teknisi);
2. Dapat menyediakan sarana komputer dengan spesifikasi (minimal) sebagai berikut:
a. Server (utama dan cadangan):
1. PC/Tower/Desktop (bukan laptop)
2. Processor Xeon atau i5
3. RAM 8 GB, DDR 3
4. Harddisk 250 GB
5. Operating System (64 bit): Windows Server/Windows 8/Windows 7/Linux Ubuntu 14.04
6. LAN CARD, dua unit
7. UPS (tahan 15 menit)
8. Jumlah server mengikuti rasio 1 : 40 (1 server maksimal untuk 40 client)
9. Cadangan 1 server.
b. Client (utama dan cadangan):
1. PC atau Laptop
2. Monitor minimal 12 inch
3. Processor minimal dual core
4. RAM minimal 512 MB
5. Operating System: Windows XP/Windows 7/Windows 8/LINUX
6. Web Browser: Chrome/Mozilla Firefox/Xambro
7. Hardisk minimal tersedia 10 GB (free space)
8. LAN Card
9. Jumlah client mengikuti rasio 1 : 3 ( 1 client untuk 3 peserta)
10. cadangan minimal 10%.
11. Headset/earphone (untuk ujian listening SMA/MA dan SMK)
c. Jaringan internet dengan bandwidth minimal 1 Mbps
d. Jaringan area lokal (Local Area Network – LAN)

Prosedur Pendaftaran Sekolah Calon Penyelenggara UNBK 2016 :
1. Provinsi dan Kota/kab membentuk Tim UNBK 2016, dan menyampaikan ke Pusat.
2. Pusat memasukkan data Tim Provinsi ke web unbk, dan menyampaikan username dan password ke tim propinsi.
3. Tim Provinsi memasukkan data tim Kota/Kab ke web unbk, dan menyampaikan username dan password ke tim Kota/kab.
4. Kota/kab mengirimkan usulan sekolah calon penyelengara ke pusat melalui propinsi.
5. Tim Kota/kab memasukkan data calon sekolah penyelenggara UNBK ke web unbk, dan menyampaikan username dan password ke masing2 sekolah.
6. Pusat membentuk Tim Teknis UNBK Pusat, terdiri dari unsur Puspendik, Pustekkom, PDSP, Direktorat Pembinaan SMP, Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Pembinaan SMA, Kemenag dan Perguruan Tinggi Negeri.
7. Tim Teknis Kota/Kabupaten/Propinsi melakukan verifikasi kesiapan sekolah.
8. Hasil Verifikasi dilaporkan ke pusat dan propinsi.
9. Verifikasi Sekolah langsung oleh Tim Teknis Pusat hanya dilakukan jika dipandang perlu.
10. Setelah verifikasi dan ditetapkan sebagai penyelenggara UNBK 2016, sekolah mengakses web unbk dan mengisi formulir pendaftaran.
11. Sekolah yang telah ditetapkan sebagai penyelenggara UNBK 2016, mencetak formulir yang telah diisi dan menguploadnya setelah ditandatangani kepala sekolah, koordinator teknis kab/kota, serta pejabat dinas pendidikan kab/kota (min eselon III).

Selasa, 22 September 2015

BIOGRAFI C. SIMANJUNTAK

CORNELIS SIMANJUNTAK,(Pematangsiantar, Sumatera Utara, 1921 - Yogyakarta, 15 September 1946) adalah seorang pencipta lagu-lagu heroik dan patriotik Indonesia. Ia dianggap sebagai tokoh yang membawa bibit unggul perkembangan musik Indonesia.

Siapa yang tak terbakar dengan lagu “Maju Tak Gentar”? Hampir setiap jiwa, apalagi pemuda, bisa terbakar oleh lagu itu. Pencipta lagu itu, Cornelis Simanjuntak, adalah seorang komponis yang memanggul senjata di medan perang untuk mempertahankan kemerdekaan negerinya.
Pada saat itu, semua orang memang bisa terbakar api revolusi. Cornel, yang saat itu masih seorang pemuda, termasuk golongan pemuda yang terbakar oleh semangat Revolusi Agustus. Soe Hok Gie menyebut Cornel sebagai tipe “pemuda revolusioner” saat itu.
Orang jaman sekarang lebih mengenal Cornel sebagai komponis lagu-lagu nasional. Sedangkan kontribusinya yang lebih besar, berkorban untuk kemerdekaan negerinya, hampir tidak ditulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah kita.
Anak cerdas pencinta musik
Cornel lahir di Pematang Siantar pada tahun 1921. Ayahnya, Tolpus Simanjuntak, adalah seorang anggota polisi. Sedangkan ibunya bernama Rumina Siahaan. Dengan latar-belakang keluarganya, Cornel berkesempatan untuk berkenalan dengan dunia yang lebih luas.
Bakat musiknya sudah muncul saat ia bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Saat itu, Cornel sudah pandai bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu barat yang didengarnya dari radio dan nonton film.
Kira-kira tahun 1937, Cornel dikirim orang tuanya bersekolah di HIK Xaverius College di Muntilan, Jogjakarta. Salah seorang sahabatnya di HIK Muntilan, Binsar Sitompul, menyebut Cornel sebagai murid yang cerdas, pemberani, jujur dan tidak pernah enggan membela pendiriannya.
Kebetulan, di HIK Muntilan saat itu ada seorang pengajar musik yang handal, J. Schouten. Berkat usaha Schouten, di sekolah itu terbentuk orkes simfoni yang beranggotakan 60 orang. Kelompok ini sering memainkan karya Beethoven, Bach, Haydn, Strauss (Johan) dan Wagner.
Cornel saat itu, kata Binsar Sitompul, segera menjadi perhatian Schouten berkat bakat musiknya yang menonjol dan suaranya yang bagus. Cornel pun terlibat dalam kelas musik Schouten. Di situlah Cornel kecil berkenalan dengan komposer-komposer besar dunia, termasuk Beethoven atau Franz Schubert. Salah satu lagu Franz Schubert, Ave Maria, menjadi lagu kesukaan Cornel.
Di sini pula Cornel mengarungi karya-karya pujangga Indonesia: Amir Hamzah, Sanusi Pane, JE Tatengkeng, dan  Sutomo Djauhar Arifin. Cornel muda makin larut dalam kecintaan terhadap sastra. Ia mengakrabi karya-karya Goethe, Schiller, Heine, dan Shakespeare.
Pencipta lagu
Pada tahun 1942, menjelang akhir studinya di HIK Muntilan, pasukan fasis Jepang datang menyerang. Berbekal ijazah darurat, Cornel bisa menjadi guru di Magelang, Jawa Tengah. Lagu “Mekar Melatiku” dihasilkannya di sana.
Pada tahun 1943, Cornel pindah ke Jakarta. Di sana, ia bekerja di Kantor Kebudayaan Jepang (Keimin Bunka Shidosho). Di sini, ia bergaul dengan seorang komponis Jepang, Nobuo Lida. Di sana ia juga ditugasi membuat lagu-lagu propaganda. Banyak lagu diciptakannya: “Asia Sudah Bangun”, “Hancurkan Musuh Kita”, “Awaslah Inggeris dan Amerika”, dan “Mars Pasukan Sukarela”.
Masa 1943-1945, kata Asrul Sani, adalah puncak kreativitas dari Cornel Simanjuntak. Satu keunggulan Cornel dalam menciptakan lagu adalah lagunya sederhana, mudah dipahami, tetapi sangat agitatif. Dan, satu lagi, Cornel menganggap seorang komponis harus sanggup menangkap perasaan musik ke dalam dada rakyat.
Terjun dalam revolusi
Pada tahun 1945, saat api revolusi membakar dada pemuda dan rakyat di mana saja, Cornel memilih terjun langsung kepada revolusi.
Asrul Sani, yang sangat akrab dengan Cornel, pernah bertemu dengan dirinya pada masa revolusi itu. Saat itu, Cornel berucap kepada Asrul Sani: “Kalau Saudara hendak mencari saya, jangan cari di rumah. Saya ada di markas API, Menteng 31. Buat sementara waktu saya meninggalkan musik. Saya sekarang merasa bebas sebebas-bebasnya dan dengan kebebasan yang saya perdapat ini saya tentu akan dapat menghalang jiwa saya. Saya tidak ingin perasaan kebebasan itu hilang. Kalau kemerdekaan kita diambil orang, ia pun akan turut hilang. Sekarang ada pertempuran untuk kebebasan ini. Saya tersangkut dalamnya.”
Cornel  terjun dalam revolusi. Ia memanggul senapan terlibat dalam pertempuran di daerah Karawang dan Jakarta. Hingga, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen – Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Ia kemudian dirawat di CBZ—sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Belum sembuh total, pasukan sekutu datang melakukan penyisiran di rumah sakit. Cornel pun dibopong pergi oleh kawan-kawan seperjuangannya dan dibawa keluar kota Jakarta.
Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.
Di jogja, batuk kering yang dideritanya tak berkesudahan. Badannya melemah dan tubuhnya terus menyusut. Ia pun dirawat di di Sanatorium Pakem, Jogjakarta. Sembari diopname, Cornel terus berkarya. Ia terus melahirkan lagu-lagu perjuangan untuk membakar semangat heroik kaum muda.
Pada 15 September 1946, Cornel—yang masih berusia 25 tahun—menghembuskan nafas yang terakhir. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.
Cornel, pemuda yang sebetulnya sedang sakit itu, tidak mempedulikan dirinya asalkan bisa berkontribusi bagi pembebasan negerinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada revolusi.
Cornel tidak mau melemah dalam semangat revolusi yang menggelora. Revolusi dan kemerdekaan adalah imannya. 

Masa Pra-Kemerdekaan

Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik dilahirkan di Pematang Siantar tahun 1921 dari keluarga pensiunan polisi kolonial. Cornel tamatan HIS St. Fransiscus Medan, 1937, HIK Xaverius College Muntilan 1942.
Kemudian, jadi guru di Magelang beberapa bulan. Pindah ke Jakarta, jadi guru SD Van Lith. Tetapi karena bakat seninya lebih garang, ia beralih profesi ke Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Di sanalah ia menciptakan lagu propaganda Jepang antara lain: Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung — yang paling populer di antaranya berjudul Hancurkanlah Musuh Kita. Guru musiknya adalah Pater J. Schouten dan Ray serta juga mendiang Sudjasmin.

Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Cornel memiliki sejumlah pengalaman perang. Pada tahun 1945-1946, ia mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gurkha/Inggris. Malang, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen - Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Dirawat di RSUP. Belum sembuh benar, ia diselundupkan ke Karawang karena Gurkha melakukan pembersihan.
Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.
Peluru di paha Cornel konon tetap bersarang ketika penyakit kronis TBC menyerangnya — dan langsung menumbangkannya ke liang lahat. Ia meninggal pada tanggal 15 September 1946 di Sanatorium Pakem, Yogya, dalam status perjaka. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.
Menjelang maut Cornel masih sempat mengangkat telepon untuk menyampaikan pesan-entah kepada siapa, entah pesan apa-tapi ia keburuh jatuh, dan mata serta mulutnya menjadi kaku. Menurut rekannya sesama pejuang, Karkono Kamajaya, menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama Bali Putra Indonesia. Lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Pemindahan Makam ke TMP Semaki Yogyakarta

Pemindahan Cornel ke Taman Makam Pahlawan sebenarnya sudah diusulkan sejak September 1978. Hampir saja merepotkan, karena beberapa instansi meminta data-data berupa bintang jasa yang ada.
Ternyata Cornel tidak sebiji pun mengantongi persyaratan itu. Ia hanya mewariskan tanda kehormatan Piagam Satya Lencana Kebudayaan yang dianugerahkan tahun 1961 oleh Pemerintah Indonesia. Letkol Suharsono S., Dan Dim 0734 Yogya, menganggap Satya Lencana itu setingkat dengan Bintang Gerilya atau bintang-gemintang lainnya. Jadi bisa dipakai sebagai tiket masuk Mahkam Pahlawan, asal ada izin keluarga.
Usul yang didalangi para seniman yang tergabung dalam ‘Sasana Vocalia Yogya’ pimpinan Suyudono Hr tersebut, akhirnya jadi lancar ketika KSAD Jenderal Widodo memberikan persetujuannya.
Dari Kerkop, kerangka sempat diinapkan di Art Gallery Senisono di samping Gedung Agung. Maklumlah gedung mi dlanggap pusat kesenian Yogya. Selama itu lagu-lagu mendiang berkumandang terus-menerus dibawakan oleh sejumlah bocah dari Paduan Suara Bocah Bocah Sasana Vokalia. Serentetan tembakan salvo mendampingi prosesi ketika sisa-sisa tubuh Cornel Simanjuntak dalam liang lahat yang lebih terhormat di Taman Makam Pahlawan Semaki di kota yang sama. Hari itu, 10 Nopember 1978, Yogya mengenang kembali komponis pejuang itu.
“Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air,” demikian kalimat di batu nisan Cornel Simanjuntak

Follow us: @D_Jemblem on Twitter | Luckyparepare on IG 

 sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Cornel_Simanjuntak